Page

Jumat, 04 Maret 2011

Tabuh Perang

Lantunan Adzan menyadarkanku dari lamunan,
Kepenatan dunia menumpuk dalam ubun, memberontak
Kutahu fitrahku sebagai ciptaanNya akan melawan,
Namun mereka sama-sama tidak berpita,
Hingga ku tidak tahu yang mana yang harus kujadikan sekutu.

Akalku membenarkan keduanya,
“Ini juga baik, kok,” sahutnya ringan.
Namun akal hanyalah akal yang hanya mampu berfikir secara logis.
“Ini baik, kok, tapi ... “ gumamnya menimbulkan tanda tanya besar dalam hatiku.

Selanjutnya akal masih mengambil alih,
Sedikit demi sedikit ia kubur fitrahku,
Menjadikannya semu dalam aliran kegalauanku,
Akal mengurai pengalamanku,
Mengelompokkannya menjadi pengalaman yang enak dan tidak enak
Membuatku berfikir dua kali saat aku berperang,
Karena di mana-mana .. berperang itu tidak enak, kan?

Dalam berperang, mundur bukanlah pilihan,
Karena hasil perang cuma dua : menang atau kalah.
Mundur dari kemenangan? Tindakan alasan untuk semua pengecut.
Mundur dari kekalahan? Perang tak butuh orang yang ketakutan.

Dan kemenangan sudah dijanjikanNya,
Berulang-ulang diutarakan dalam surat-surat cintaNya,
Di ujung aliran kebingungan, sesuatu berdiri kokoh menjadi bendungan.
Ialah keyakinan, yang menepis segala ragu, galau, atau rasa tak mampu.

Yakin atas janji-janjiNYA, itu sudah cukup.
Lakukan yang terbaik, selama ruh masih dalam jasad.
Jangan berpura-pura lupa, bahwa Allah Maha Tahu.

Selasa, 28 Desember 2010

Isyarat

seperti mendung yang mengisyaratkan hujan,
atau merah yang mengisyaratkan panas,
aku ada dengan seribu isyarat untukMu,
isyaratku hanya diam, isyaratku bukanlah kata-kata.

saat ini aku hanya tertunduk,
meratapi takdir,
isyarat akan ketidaksabaranku.

isyaratMu memudahkan segala.

kemarin aku merenung menangis,
menyesali takdir,
isyarat akan kebodohanku.

isyaratMu KAU selalu ada di sampingku.

dan kelak aku tersungkur,
tak berdaya akan diri sendiri,
isyarat akan kecerobohanku.

isyaratMu KAU tak pernah langgar janji-janjiMu.

Minggu, 12 Desember 2010

Puisiku Untuk Ibu

Ibu..
Masih terbayang saat kau membelai rambutku sayang,
Memberikan kenyamanan saatku menangis,
Memelukku, dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja..

Rasanya seperti kemarin, saat kau menyiapkan bekal untukku,
Menyampaikan cinta untukku lewat sendok dan garpu,
Membuatku merasakan, kau selalu ada di sampingku sekalipun di sekolah..

Membuatku menyesal, saat kau terpaksa oleh keadaan,
Menangisi keadaanku yang sedang menyalahkan takdir,
Sadar aku sekarang, betapa sabar bisa jadi penambal dosa...

Saat tangan hangatmu mendekapku,,
Terbesit di benakku..
Apakah ada saat di mana aku tidak bisa mendekapmu?

Saat senyummu mengembang menyambutku pulang,
Kalimat yang tertahan dalam benakku,
Ini bukan yang terakhir kan?

Kata-kata terucap dari lubuk hati,
Lisan tak keluar, karena pipi memerah, mata berkaca-kaca,
Banyak maaf teruntai mengiringi kata syukur,
Ibu, maafkan aku,

Metamorfosisku UntukNya

Seperjalanan metamorfosisku,
Aku tak menemukan cermin,
Yang bisa membuatku sadar bahwa aku ulat yang buruk.
Tidak ada yang memberi tahuku,
Di akhir metamorfosis aku bisa jadi kupu-kupu,
Kupu-kupu cantik yang indah.
Dan bukankah Allah menyukai keindahan?

Ketika aku melewati itu semua dengan ketidaktahuan,
Aku menjadi kupu-kupu,
Tapi tidak indah.
Apakah Allah benci padaku?
Tidak.

BagiNya segalanya menjadi mungkin.
Kesempatan tiada batas di mataNya,
Hingga aku bermetamorfosis lagi,
Dengan semua pengetahuan kuserap dalam kepompongku.
Ketika menjadi kupu-kupu,
Aku menjadi kupu-kupu yang indah.
Sedikit.

Kesempatan tiada batas bagiNya,
Kesempatan untuk lebih baik.
Dan karena kesempatan yang tiada batas tersebut hanya menurutNya,
Aku berubah sesuai keinginanNya.

coretan kanvas

aku adalah kanvas

bermula dari putihnya kanvas,
akhirnya warna-warni termakan waktu.
setiap orang yang melihatku bergidik sambil berlalu,
"lukisan apa itu,"ucap mereka sepintas.

aku ada dengan jalanku,
tak berbeda jauh dengan bunga-bunga di taman,
sama-sama membawa misi keindahan.

biarlah orang menggerutu akan hal yang tidak mereka tahu tentangku,
karena kutahu, Tuhanku Sang Maha Tahu.